RAKYATPAPUA.COM, SORONG – Anggota DPR RI Fraksi PDI-P, Jimmy Demianus Ijie mempertanyakan segelintir orang yang mempermasalahkan Media Rakyat Papua.

Hal tersebut diungkapkan Jimmy di sela-sela acara Nonton Bareng (Nobar) pertandingan Brasil vs Mexico pada Piala Dunia 2018 di Luxio Cafe Kota Sorong, Senin (2/7/2018) malam.

Mantan Wakil Ketua DPR Papua Barat ini mengaku menyesalkan perihal pernyataan yang dinilai tendensius tersebut.

“Saya menduga jangan sampai ini persaingan tidak sehat antar sesama media atau oknum wartawan saja. Jadi jangan sampai publik figur alias para elit atau tokoh-tokoh khususnya di Papua Barat mudah terprovokasi dalam persoalan ini, apalagi ini terkait media yang punya peranan penting dan memiliki keperkasaan untuk mengangkat sekaligus menghancurkan karakter tokoh atau elit,” tegas dia.

“Apalagi saya dengar ini persoalan antar oknum wartawan dengan wartawan saja, katanya sesama wartawan pendatang di Papua, tapi oknum wartawan satu merasa tersaingi sehingga melakukan cara-cara tidak terpuji, dan tidak mau bersaing sportif. Ini jangan sampai kita sesama orang asli Papua yang dibenturkan nanti,” pesan dia.

Baca Juga: Pemda Raja Ampat Datangkan Kapal Penyebrangan

Jimmy menegaskan nama atau domain yang digunakan Media Rakyat Papua sama sekali tidak penting untuk dipersoalkan. Menurutnya, jauh lebih bermanfaat jika membahas hak-hak orang asli Papua (OAP), khususnya terkait implementasi Otsus Papua yang sudah berjalan bertahun-tahun, tapi sampai sekarang belum dirasakan betul rakyat pribumi Papua.

“Daripada membahas persoalan ini yang tidak jelas dasar hukumnya apa? Apakah ada di dalam UUD 21 atau Perda dan Perdasus ada yang melarang setiap orang agar tidak boleh menggunakan nama atau identitas Papua untuk sebuah media online atau cetak? Jadi saya kira buang-buang waktu saja bahas ini, lebih penting bahas tentang nasib dan masa depan rakya Papua,” jelas politisi PDIP itu.

Jimmy mencontohkan masalah penggunaan nama atau identitas Bank Papua yang menggunakan identitas papua namun dalam pelaksanaannya tidak berpihak pada OAP.

“Coba kita lihat Bank Papua yang menggunakan identitas Papua, modalnya berasal dari sumbangan kas dari masing-masing daerah di Tanah Papua. Tapi ketika tertimpa kasus kredit macet hampir Rp2 triliun, mereka biasa-biasa saja. Lantas dimana suara manusia-manusia ini yang sok membela orang Papua itu,” katanya menyindir.

Kata dia, Bank Papua buka cabang dimana-mana, tapi cabang tersebut malah memberikan kemudahan modal yang besar bagi orang yang tidak mengerti Papua atau bukan OAP.

“Ada satu perusahan di Sorong yang kreditnya mencapai Rp 200 miliar dengan hanya menjaminkan hutan di Maladofok mereka layani, namun ketika mama Papua yang melakukan pinjaman, sengaja dibuat rumit dengan sistem administrasi mereka,” ungkap dia.

Hal tersebut yang dilakukan oleh bank yang menggunakan identitas Papua, namun dalam pelaksanaannya tidak terasa keberpihakan kepada OAP. “Terus dimana suara-suara mereka ini yang sok Papuanis membela rakyat Papua?,” tanya dia.

Jimmy menegaskan, kalau memang hal tersebut menjadi persoalan, kenapa Bank Papua yang memakai nama Papua tersebut tidak ditindak?

“Seharusnya kita harus mengapresiasi ada kreativitas dari putra-putri OAP yang bisa berkarya membangun melalui media lokalnya sendiri dan berkontribusi dengan tulisan-tulisanya dalam menyampaikan informasi dari negrinya sendiri. Saya lihat dalam struktur media ini banyak orang asli Papua kok, maka berilah mereka ruang untuk berkarya,” harap dia.

Legislator senayan ini berharap kepada lembaga DPR, MPR, dan praktisi HAM agar harusnya mendukung ketika ada kreativitas dari anak-anak asli Papua yang berkontribusi dalam membangun Papau.

“Pimpinan Redaksi dari media Rakyatpapua.com yang dipersoalkan ini, kan anak anak asli Papua sendiri, dan apakah salah kalau mereka memakai identitas mereka sendiri, kenapa harus mereka disandra di dalam rumah mereka sendiri, ini kan lucu, ada apa? tegas Jimmy mempertanyakan lagi.

Dia menambahkan, bahwa di Papua dan papua Barat sudah banyak media yang menggunakan nama identitas Papua. Dan selama ini tidak pernah dipersoalkan, bahkan ada media yang jelas-jelas lebih kental menggunakan nama atau identitas Papua.

“Jadi ini jelas mengandung unsur tendensius, tapi saya kira Media Rakyat Papua tetap jalan saja, terus lah berkarya, orang sukses selalu mau maju dan pasti mendapat ujian. Anjing menggonggong, kafilah berlalu, biarkan orang lain berbicara, mencemooh atau mempergunjingkan seseorang, yakin saja apa yang ditanam, itu juga yang akan dia tuai nanti. Sukses untuk Media Rayat Papua,” pungkasnya.

Redaksi Rakyat Papua

Kami menyiapkan rubrik Citizen Reporter yang khusus untuk memberi ruang kepada publik mengirim naskah/tulisan dan foto/video kejadian atau peristiwa. Silahkan kirim di alamat email: redaksi.rakyatpapua@gmail.com (Whatsapp admin: 0852-4339-4446)