RAKYATPAPUA.COM, SORONG – Akademisi Universitas Cendrawasih (Uncen) Jayapura, Dr Rafael Kapura menilai pengunaan dana Otonomi Khusus (Otsus) di Propinsi Papua dan Papua Barat bukan gagal tetapi kurang maksimal.

Hal tersebut diungkapkan kepada Rakyatpapua.com di KM 9 Kompleks BLKI Kota Sorong. Ia mengatakan Otsus yang diberikan kurang lebih 17 tahun sejak tahun 2001 hingga tahun 2018, kurang maksimal sehingga harus ada pembenahan di 7 tahun tersisa ini.

Dijelaskan, bahwa ada empat hal yang diproritaskan dalam undang-undang Otsus, diantaranya pendidikan, kesehatan, usaha kecil dan menengah, serta pembangunan infrastruktur.

“Dari 4 hal ini kalau bicara terkait evaluasi, kita bicara tentang keberhasilannya misalnya pendidikan dalam undang-undang otsus telah ditentukan anggaran pendidikan untuk propinsi kabupaten/kota itu 30 persen,” ungkapnya.

“Tapi selama ini coba kita lihat di APBD Propinsi/kabupaten/kota sudah terlaksana 30 persen buat dana pendidikan atau tidak?,” tanya dia.

Rafael menilai sejauh ini dana pendidikan 30 persen itu tidak maksimal, hanya mencapai 5-10 persen dibuktikan masih kurangnya anak-anak Papua dan Papua Barat yang menyandang gelar doktor atau S2, bahkan tidak ada sekolah yang berstandar internasional di Papua,” terangnya.

Sementara, alokasi dana kesehatan 15 persen juga belum capai, dengan dasarnya tidak adanya rumah sakit yang berstandar internasional, dan kurangnya rumah sakit rujukan.

“Rumah sakit di Papua itu standar lokal semua, tidak ada standar internasional. Sementara alokasi dana otsus untuk kesehatan jelas dialokasikan,” tuturnya.

Untuk usaha kecil dan menengah, alokasinya juga 15 persen tapi juga belum tercapai dengan dasar orang asli Papua hanya sedikit yang memiliki tambak, warung, dan rumah sewa.

“Jadi ke depan harus membuat laporan anggaran Otsus, harus terpisah dari APBD serta membenahi manajemen keuangan dan transfer nasional, serta harus membuat sebuah badan pengawal Otsus yang terdiri dari kelompok profesional, ilmuan atau akademisi, pemerintah daerah dan pemerinta pusat,” pungkasnya.

Penulis: Hermanus Sagisolo