Manokwari, Rakyatpapua.com – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Papua Barat, nyatakan kesiapannya hadapi Pesta Demokrasi Pemilu (Pileg) 2019, 17 April mendatang dengan menggandeng 10 Advokat (Pengacara-red)

Politisi PSI Papua Barat, Yohanes Akwan, SH menyatakan tindakan tersebut diambil sebagai langkah antisipasi kemungkinan terjadinya sengketa hasil Pemilu 2019, termasuk mengawal pengamanan suara PSI melalui proses peradilan.

“Ada 10 Pengacara yang kami (PSI Papua Barat) akan siapkan untuk jaga-jaga kalau timbul sengketa pemilu, sekaligus pengamanan suara PSI melalui proses peradilan” ujar Yohanes, Selasa (5/3), dalam rilisnya.

Yohanes Akwan, yang juga cukup aktif dalam mengadvokasi isu lingkungan maupun tenaga kerja ini menyebut bahwa secara nasional, PSI juga bekerja sama dengan Jaringan Kerja Advokasi Rakyat (Jangkar).

“Secara nasional, PSI juga disuport oleh Jaringan Kerja Advokasi Rakyat (Jangkar) Solidaritas di tingkat pusat. Jaringan ini adalah alat perjuangan partai yang diisi sejumlah pengacara yang berkompeten” katanya.

Lanjut Anis, sapaan akrab Yohanes Akwan, langkah ini juga dibuat usai mengikutkan utusannya (PSI Papua Barat) pada Bimbingan Tekhnis yang dilaksanakan oleh Pusat Diklat dan Pelatihan Mahkamah Konstitusi, di Bogor pada 28 Februari – 2 Maret lalu.

Perwakilan PSI Papua Barat ketika mengikuti Bimtek Sengketa Hasil Pemilu 2019, di Bogor beberapa waktu lalu. (Foto. Istimewa)

Dalam Bimtek tersebut, ungkapnya, para peserta (termasuk perwakilan Papua Barat) dibekali pemahaman mengenai Hukum Acara Penyelesaian Perkara Pemilu.

“Kami perwakilan papua barat ikut bimtek itu, dibekali pemahaman mengenai hukum acara penyelesaian perkara pemilu” ucap Anis.

Dukungan SDM dan kesiapan infrastruktur ini dipercaya Politisi PSI ini semakin menunjukkan bahwa PSI Papua Barat siap menghadapi sengketa hasil pemilu, baik Pileg maupun untuk kepentingan Pilpres.

Apalagi menurut Anis, PSI secara keseluruhan percaya bahwa KPU berintegritas, namun, tambahnya, peluang-peluang terjadinya pelanggaran atau sengketa bukan hal yang tidak mungkin terjadi.

(***/Mb/Halim)