Manokwari, Rakyatpapua.com – Pendidikan di Tanah Papua dinilai telah lahir dan bertumbuh sejalan dengan peristiwa Masuknya Injil untuk pertama kali di Tanah Papua sejak 164 tahun yang lalu (1855-2019).

Kabar baik Kerajaan Allah yang di perkenalkan oleh Ottow dan Geissler sekaligus menggenapi Nubuat Matius 28:18-20 dan dapat dipahami sebagai perintah untuk memberitakan injil dengan menjadikan pendidikan sebagai batu penjuru utama di Tanah Papua.

“Kepada Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikan lah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

  (Matius 28:18-20)

Hal ini ditandai dengan adanya kegiatan ibadah dan mempelajari isi kitab suci Alkitab yang dilakukan ketika itu oleh Ottow dan Geissler.

Mulanya, ibadah dan pelajaran isi Alkitab yang dilakukan kedua zenseling tersebut bersama orang-orang asli Pulau Mansinam, yaitu suku Doreri yang berbahasa Numfor.

Bahkan, Pdt. F.J.S. Rumainum dalam bukunya berjudul “Sepuluh Tahun Gereja Kristen Injili (GKI) Setelah Seratus Satu Tahun Zending Di Irian Barat”, telah mengungkapkan hal tersebut.

“Sejauh pemahaman para zendeling dan pemrakarsa berdirinya GKI Di Tanah Papua kala itu bahwa pendidikan adalah pilar utama bagi bersemainya benih-benih Injil Kristus di Tanah Papua ke depan” tulis Ketua Sinode GKI yang pertama ini dalam bukunya.

Alasan inilah yang menyebabkan kemudian GKI Di Tanah Papua menerima penyerahan tanggung jawab penyelenggaraan tugas pendidikan Kristen dari Zending melalui pendirian sebuah yayasan (stichting : bahasa Belanda-red).

Bertolak dari hal tersebut, pendelegasian tugas yang diberi nama awalnya Yayasan Persekolahan Kristen (YPK) pada tanggal 8 Maret 1962 (57 tahun yang lalu), dan hari ini diperingati sebagai Hari YPK di Tanah Papua.

Jenjang pendidikan Kristen dimulai ketika itu dari tingkat dasar (SD) dan menengah pertama (SMP) serta menengah atas (SMA).

Sayang sekali karena penyelenggaraan pendidikan sekolah-sekolah YPK di Tanah Papua sudah banyak tidak berjalan baik, ada sejumlah sekolah-sekolah YPK bahkan diambil alih oleh Pemerintah Indonesia dan diganti namanya menjadi Sekolah Negeri atau Inpres Negeri.

Sebagai salah satu alumni Sekolah Yayasan Pendidikan/Persekolahan Kristen, Yan Ch Warinussy mengganggap sebuah tantangan besar diperhadapkan bagi YPK secara khusus dan GKI Di Tanah Papua secara umum.

“Karena pendidikan yang dahulunya dijadikan sebagai batu penjuru bagi pekerjaan pekabaran Injil Di Tanah Papua justru dalam konteks Papua hari ini justru mendapat posisi yang strategis dan proporsional” ujar Alumnus YPK ini.

Dalam amanat pasal 56 UU RI No.21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua, posisi YPK sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau Organisasi Masyarakat Sipil yang bertanggung-jawab dalam menjalankan kegiatan pendidikan atas dukungan pemerintah daerah di Tanah Papua melalui subsidi.

“Menurut pandangan saya sebagai salah satu Advokat dan Pembela HAM di Tanah Papua bahwa sudah saatnya YPK Di Tanah Papua hadir sebagai organisasi moderen yang mandiri dalam daya dan dana serta menejemennya” sebut Yan.

“Guna memajukan terus pendidikan Kristen secara khusus dan pendidikan pada umumnya bagi rakyat Papua di Bumi Cenderawasih yang Diberkati TUHAN sejak 164 tahun lalu itu” tutupnya.

(Citizen Reporter : Yan Ch Warinussy)
(***/Halim)