Jayapura, Rakyatpapua.com – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Wilayah Papua, Senin (18/3), secara resmi mengeluarkan Siaran Pers terkait Bencana Banjir Bandang yang menerjang Sentani beberapa waktu lalu.

Dalam rilisnya, curah hujan yang cukup tinggi (114mm/hari) di wilayah Sentani pada Sabtu (16/3) malam sejak pukul 19.00 – 23.30 WIT mengakibatkan dua sungai yang berada di DAS Cagar Alam Sentani, yakni Sungai Kemiri dan Sungai Tereh meluap.

Seminggu sebelum peristiwa Banjir Bandang terjadi, Tim Resort Sentani BBKSDA Papua melakukan pengecekan lokasi kedua hulu sungai Kemiri dan Tereh karena mendapati bahwa kondisi Air kedua sungai tersebut mengalami keruh.

Kepala BBKSDA Wilayah Papua, Edward Sembiring, menyatakan setelah melakukan pengecekan, penyebab keruhnya air dari kedua sungai tersebut dikarenakan terjadi longsong pada beberapa titik.

“Ada longsor di titik E 140 31′ 2,541″ – S 2 31’45,758″ lokasi sungai Sereh, dan E 140 29’317″ – S 2 30′ 55,519″ di Sungai Kemiri” ucap Kepala BBKSDA Papua.

Penyebab banjir sejauh ini menurut BBKSDA, setidaknya disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya :

1. Curah hujan yang sangat ekstrim dan intensitas hujan yang sangat tinggi bahkan mencapai 144m/hari.

2. Debit puncak banjir melebihi pengaliran daerah tangkapan air.

3. Banyaknya pemukiman di sepanjang sungai kemiri yang merupakan sungai utama penyebab banjir.

4. Jenis tanah (Acrisol) memilik tingkat saturasi yang cukup rendah sehingga berpotensi mengakibatkan aliran permukaan yang tinggi. Ini dibuktikan dengan banyaknya pohon yang tercabut dari akarnya.

5. Adanya longsoran pada bagian hulu catchman area (hasil survei Tim Patroli BBKSDA 8 – 13 Maret 2019) besar kemungkinan material longsoran menutup aliran sungai kemiri dan menjadi tanggul pada hulu.

“Tanggul alam dari material longsor ini kemungkinan besar runtuh dengan membawa volume air yang cukup besar dalam waktu singkat” sebut BBKSDA.

Adapun penyebab longsor patut diduga akibat terjadinya Gempa Bumi yang terjadi di patahan Sentani yang secara geologis melintas di wilayah sentani.

Pergerakan patahan Sentani menyebabkan tiga kali gempa bumi diantaranya 3,3 SR tanggal 15 Maret 2019, 5,4 SR tanggal 16 Februari 2019, dan 4,1 SR tanggal 11 Februari 2019.

“Terjadi tiga kali gempa ditambah curah hujan yang cukup tinggi” ujar Ka. BBKSDA menjelaskan penyebab utama terjadinya longsor pada beberapa titik di dua sungai tersebut.

Selain itu, dalam rilis tersebut juga disebutkan bahwa disekitar kejadian banjir tidak ditemukan adanya pembalakan liar.

Hal tersebut dapat dipastikan karena material kayu yang hanyut terbawa banjir tidak ditemukan pohon bekas tebangan.

Namun yang ditemukan di lokasi banjir bandang kebanyakan justru berupa pohon yang tercabut sekaligus dengan akarnya.

Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring menyampaikan bahwa Cagar Alam (CA) Pegunungan Cycloop adalah kawasan suaka alam yang memiliki ciri khas tertentu, mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayah sistim penyangga kehidupan.

Selanjutnya, ia menyampaikan bahwa Role Mole pengelolaan CA Pegunungan Cycloop adalah pengelolaan berbasis kearifan lokal, harapnya, harmonisasi antara alam dan budaya bisa terjaga dengan baik.

Sementara itu, dihimpun dari berbagai sumber, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menduga kerusakan kawasan CA Pegunungan Cycloop di Jayapura lah yang menjadi penyebab banjir bandang Sentani.

Ia menyebutkan, Pegunungan yang seharusnya menjadi daerah resapan air itu malah dirusak dan di bangun permukiman hingga lahan pertanian swadaya masyarakat.

“Kerusakan di Pegunungan Cycloop ternyata sudah berlangsung sejak 2003. Perambahan cagar alam oleh 43.030 jiwa atau 753 keluarga sejak 2003. Terdapat penggunaan lahan permukiman dan pertanian lahan kering campur pada DTA (DAS sentani) banjir 2.415 hektare,” ucap Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di Graha BNPB, Jakarta, Senin (18/3).

Perusakan di pegunungan Cycloop yang dikenal juga sebagai Dafonsoro ini bahkan masih berlangsung hingga saat ini.

Kerusakan alam inilah, yang menjadi salah satu pemicu banjir di Sentani dan tanah longsor di Kota Jayapura.

“Masih berlangsung penebangan pohon untuk pembukaan lahan dan perumahan dan kebutuhan kayu dan penambangan galian C,” kata Sutopo.

Akibat hujan deras, aliran sungai tidak mampu menampung air. Kondisi topografinya di bagian hulu agak curam, sedangkan di bagian hilir, yang merupakan Distrik Sentani dan sembilan kelurahan yang terdampak banjir, memiliki topografi datar hingga landai.

Sutopo mengatakan batuan-batuan penyusun yang ada di sana termasuk jenis batuan remah, mudah tererosi, dan mudah longsor.

Karena itu, ketika terjadi hujan deras, ada kemungkinan terjadi longsor dan membentuk bendung alami yang jebol saat hujan ekstrem.

(***/Halim)