Dispen TNI AU Telusuri Jejak Sejarah Operasi “Srigala” 1962 di Teminabuan

61

Sorong Selatan, Rakyatpapua.com – Dinas Penerangan (Dispen) Mabes TNI AU, Rabu (24/4/2019) menerjunkan sejumlah personel untuk menggali bekas sejarah operasi “Srigala” yang menerjunkan Pasukan Gerak Tjepat (PGT) TNI AU di Teminabuan, tahun 1962 silam.

Operasi “Srigala” diketahui merupakan salah satu bentuk operasi gabungan TNI dari Ops Trikora pada masa pembebasan Irian Barat dari Kolonial Belanda atas perintah Presiden Ir. Soekarno.

Kasubdis Jarah Dispen Mabes TNI AU, Kolonel Maylina Saragih, selaku penanggung jawab mengatakan, kunjungan ini bertujuan untuk menggali data-data mengenai operasi yang dilakukan PGT TNI AU tahun 1962, terkait konflik Indonesia-Belanda di Papua.

Pengalian sejarah operasi Srigala yang dipimpin Kasubdis Jarah Kolonel Maylina Saragih dengan timnya Kolonel Pas Suratno, Mayor Sus Komarudin dan PNS Karsin ini bakal dilaksanakan di beberapa tempat, yakni Teminabuan Sorsel, Sorong dan Pulau Doom.

Diceritakannya, bahwa kesepakatan kedua negara (Indonesia-Belanda) untuk menyelesaikan konflik tidak tercapai sehingga Presiden RI saat itu, Ir.Soekarno, mengeluarkan perintah untuk melaksanakan Operasi Trikora yaitu pembebasan Irian Barat dari Belanda.

Untuk pembebasan Irian Barat tersebut dilaķsanakanlah operasi-operasi gabungan TNI. Dan satunya adalah Operasi Srigala, yang hanya melibatkan anggota PGT TNI AU dan berhasil mengibarkan bendera merah putih pertama kali di tanah Papua.

“Kunjungan ini untuk mencari dan menggali data – data mengenai operasi yang dilakukan oleh PGT TNI AU pada tahun 1962 yang lalu terkait konflik yang terjadi antara Indonesia dengan Belanda yang tetap bertahan di Papua,” ujarnya ketika diwawancarai.

“Kami akan mencari data-data yang mungkin masih ada untuk mendapatkan kelengkapapan data data yang sebelumnya sudah ada, sehingga kisah heroik anggota PGT dapat menjadi teladan bagi generasi-generasi muda,” sebut Kolonel Saragih.

Proses pencarian data di Teminabuan selama 2 hari ke sejumlah titik diantaranya Tugu Merah Putih, TMP Tjakrabuana Teminabuan, Lapas Teminabuan sebagai Lapas Peninggalan Belanda, Puskesmas Teminabuan, Bandara Teminabuan, serta menemui sejumlah saksi sejarah di Teminabuan.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa pihaknya terlebih dahulu telah mewawancarai 2 orang pelaku sejarah yang masih hidup, yakni Peltu Purn Rebo Hartono dan Lettu Purn Kusmari di Bandung.

“Dengan keterangan itu, kami turun kelapangan mencari, mengumpulkan dan mensinkronkan data dari pelaku dan saksi sejarah lainnya di Teminabuan tentang peristiwa tersebut. Hasil dari data/ informasi yang didapat akan disusun dijadikan sebuah buku,” tambahnya.

“Buku ini akan diterbitkan dan dipublikasikan kepada masyarakat umum agar generasi muda mengetahui ternyata di Teminabuan menyimpan sejarah pembebasan Irian Barat untuk menanamkan cinta Tanah Air,” ungkap Kasubdis Jarah Mabes TNI AU ini.

Selain menerbitkan buku, disebutkan juga, Kadispen AU akan bekerjasama dengan salah satu rumah produksi untuk mendokumentasikan peristiwa ini dalam bentuk Film.

Dijelaskan juga bahwa sejumlah benda sejarah berupa senjata, sangkur dan parasut yang dipakai para PGT pada waktu terjun di Teminabuan, telah diserahkan warga pada acara puncak Napak Tilas (16/2/2019) di Teminabuan telah di simpan pada Museum TNI AU Pusat Dirgantara Mandala.

(Engelberto/Halim)